
KENDARI – Kota Kendari kembali masuk dalam peta wilayah rawan banjir di Sulawesi Tenggara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyoroti tingginya intensitas hujan yang berulang setiap musim penghujan sebagai faktor utama meningkatnya risiko banjir.
Selain Kendari, terdapat enam daerah lain di Sultra yang dinilai kerap terdampak banjir dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini membuat banjir masih menjadi ancaman serius di wilayah tersebut.
Banjir Dominasi Bencana Hidrometeorologi di Sultra
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sultra, Aris Yunatas, mengungkapkan bahwa banjir mendominasi kejadian bencana hidrometeorologi di Sultra dalam periode 2021 hingga 2025.
Pernyataan itu disampaikan Aris saat rapat koordinasi lintas sektoral Operasi Lilin Anoa 2025 yang digelar di Polda Sultra, Rabu (17/12/2025).
“Berdasarkan evaluasi lima tahun terakhir, banjir masih menjadi bencana paling sering terjadi di Sulawesi Tenggara,” ujar Aris.
Tujuh Daerah Rawan Banjir, Kendari Masuk Daftar
BMKG mencatat sedikitnya tujuh daerah di Sultra yang berulang kali terdampak banjir. Daerah tersebut meliputi Kota Kendari, Konawe Utara, Konawe, Kolaka, Kolaka Utara, Kolaka Timur, dan Buton Utara.
Wilayah-wilayah ini dinilai memiliki tingkat kerentanan tinggi, terutama saat curah hujan meningkat dalam waktu singkat.
Menurut Aris, faktor topografi, sistem drainase, dan kepadatan permukiman menjadi penyebab utama banjir di kawasan perkotaan seperti Kendari.
Banjir Capai 45 Persen dari Total Bencana
Dalam pemaparannya, Aris menyebutkan bahwa banjir menyumbang sekitar 45 persen dari total 90 kejadian bencana hidrometeorologi di Sultra selama lima tahun terakhir.
Angka tersebut menjadikan banjir sebagai bencana paling dominan dibandingkan cuaca ekstrem lainnya, seperti angin kencang atau kekeringan.
BMKG juga mencatat, bulan Maret menjadi periode dengan frekuensi banjir tertinggi. Kondisi ini dipicu oleh hujan berintensitas tinggi dengan durasi singkat yang menyebabkan limpasan air, khususnya di wilayah perkotaan.
Sultra Masuk Fase Aktif Musim Hujan
Saat ini, sebagian besar wilayah Sulawesi Tenggara telah memasuki fase aktif musim hujan. BMKG memprakirakan kondisi ini akan berlangsung hingga Juni 2026.
Secara umum, sifat hujan berada pada kategori normal. Namun, dinamika atmosfer regional berpotensi meningkatkan intensitas hujan pada waktu tertentu.
“Pemerintah daerah dan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana, khususnya banjir dan tanah longsor,” jelas Aris.
Pengaruh MJO dan Sistem Tekanan Rendah
BMKG juga mengingatkan adanya pengaruh gelombang ekuatorial Madden-Julian Oscillation (MJO) serta sistem tekanan rendah. Faktor ini dapat memperkuat curah hujan di wilayah Sultra, termasuk Kota Kendari dan daerah penyangga di sekitarnya.
Hasil pemantauan radar cuaca dan citra satelit menunjukkan peningkatan hujan bersifat lokal. Kondisi ini umumnya terjadi pada siang hingga sore hari.
“Potensi hujan dengan intensitas tinggi masih perlu diwaspadai, terutama di wilayah rawan banjir,” tutup Aris.



