Gagasan Dr. Albert: Maratonisasi Kunci Transformasi Digital UMKM

Ekosistem ekonomi Indonesia tengah menghadapi pergeseran paradigma yang masif. Transformasi digital UMKM tidak lagi sekadar opsi pelengkap untuk mempercantik etalase bisnis, melainkan sebuah imperatif struktural yang menentukan hidup matinya sebuah usaha. Merespons fenomena krusial ini, tokoh pendidikan sekaligus Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Karya Persada (YAMIKAP), Dr. Albert, S.E., S.Kep., Ns., M.MKes, membedah secara kritis perlunya perombakan mendasar melalui konsep “Rekayasa” dan “Maratonisasi” digital bagi jutaan pelaku usaha kecil di Tanah Air.
Baca Juga : Anak Yatim Jadi Saksi Albert Institute Resmi Digagas
Ilusi “Onboarding” dan Kesenjangan Kapasitas
Secara kuantitatif, urgensi digitalisasi memiliki landasan yang teramat solid. Mengacu pada data Kementerian Koperasi dan UKM, lebih dari 64 juta unit usaha mendominasi lanskap ekonomi nasional, menopang 61 persen Produk Domestik Bruto (PDB), dan menyerap 97 persen tenaga kerja. Ironisnya, tingginya angka partisipasi ini belum berbanding lurus dengan kualitas pemanfaatan teknologi.
Menurut Dr. Albert, klaim masifnya pelaku usaha yang telah merambah ekosistem digital sering kali hanya sebatas ilusi eksistensi. Ia mengartikulasikan bahwa kehadiran di ruang maya kerap kali bersifat simbolik belaka tanpa diiringi daya kejut transformasional.
“Banyak pelaku usaha yang merasa puas hanya dengan membuat akun di lokapasar atau memajang katalog di Instagram, namun langkah tersebut nihil strategi konten maupun analisis pasar yang tajam. Pada level ini, digitalisasi mereka mandek pada tahap eksistensi, dan gagal menyentuh esensi optimalisasi bisnis,” urai Dr. Albert, yang juga merupakan pendiri Universitas Karya Persada Muna (UKPM) tersebut.
Rekayasa Digital: Rasionalisasi Rantai Nilai Bisnis

Guna menjembatani kesenjangan kapasitas tersebut, Dr. Albert menawarkan gagasan rekayasa UMKM melalui pendekatan digital. Konsep ini bukan tentang pemaksaan adopsi teknologi secara membabi buta, melainkan upaya sistematis mendesain ulang tata kelola bisnis dari hulu ke hilir.
Sebagian besar pelaku usaha di level mikro masih terbelenggu pola pikir konvensional yang bertumpu pada intuisi belaka dan minimnya literasi pendataan. Digitalisasi, jika tidak direkayasa dengan tepat, justru akan dipersepsikan sebagai beban administratif baru.
Baca Juga : Bukber Mitra Karya Persada Group Sarat Nilai Soliditas Pendidikan
“Rekayasa digital sejatinya membuka gerbang rasionalisasi bisnis. Mulai dari pemanfaatan sistem Point of Sale (POS), pencatatan pembukuan elektronik, hingga integrasi transaksi non-tunai yang melahirkan transparansi tingkat tinggi. Mahakarya dari rekayasa ini adalah lahirnya data transaksi yang terdokumentasi, yang kelak menjadi senjata utama dalam membedah perilaku konsumen dan merumuskan strategi penetrasi pasar yang lebih presisi,” tegas akademisi sekaligus praktisi kesehatan itu.
Maratonisasi: Napas Panjang Menuju ‘Grow Digitally’
Kendati kerangka rekayasa telah terbangun, fondasi konseptual tersebut akan runtuh tanpa adanya daya tahan di lapangan. Di titik inilah konsep “Maratonisasi Digital” memegang peranan vital. Dr. Albert memandang bahwa evolusi teknologi bukanlah ajang lari cepat (sprint) untuk mengejar sensasi viral sesaat, melainkan maraton panjang yang menuntut resiliensi, konsistensi ritme, dan visi strategis.
“Fase ‘go digital’ hanyalah garis start, tujuan esensialnya adalah ‘grow digitally’. Banyak pelaku usaha yang meraup untung instan di awal promosi agresif, namun kolaps karena ketiadaan napas panjang dalam berbisnis,” paparnya.
Lebih lanjut, ia menjabarkan empat pilar utama dalam maratonisasi digital. Pertama, literasi mendalam terhadap algoritma dan logika platform distribusi konten. Kedua, konsistensi dalam membangun identitas naratif merek. Ketiga, pengelolaan data sebagai “energi” penggerak bisnis. Dan keempat, integrasi ekosistem pembayaran finansial yang mulus (seamless) melalui platform seperti QRIS, OVO, GoPay, dan DANA.
Menutup diskursus analitisnya, Dr. Albert menegaskan bahwa keberhasilan Transformasi Digital UMKM juga sangat bergantung pada orkestrasi negara. Pendekatan regulasi tidak boleh lagi terjebak pada seremonial pelatihan, melainkan bergeser pada pendampingan berorientasi hasil (outcome-based). Dengan perpaduan rekayasa sistem yang presisi dan mentalitas pelari maraton yang tangguh, UMKM Indonesia diproyeksikan tidak hanya mampu bertahan di tengah pusaran disrupsi, tetapi juga tumbuh menjadi episentrum kekuatan ekonomi digital Asia Tenggara tanpa menanggalkan keunikan identitas lokalnya.
Redaksi GoMuna


