Pendidikan

Anak Yatim Jadi Saksi Albert Institute Resmi Digagas

Wacana pendirian Albert Institute mulai mengemuka sebagai inisiatif strategis dalam memperkuat ekosistem pendidikan dan ekonomi di Kabupaten Muna. Gagasan tersebut dibahas dalam suasana khidmat yang dirangkaikan dengan kegiatan buka puasa bersama (Bukber), serta memberi santunan kepada anak-anak yatim, Rabu, 4 Maret 2026.


Baca Juga : Didukung Bupati, Kolaborasi IDI Muna dan Mubar Sukses Distribusikan Layanan Kesehatan Gratis

Jalannya Diskusi Diselimuti Nuansa Spritual dan Solidaritas

Agenda yang berlangsung di kediaman Dr. Albert, selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Karya Persada (YAMIKAP) Muna ini, bertepatan dengan momentum hari ke 14 Puasa Ramadhan 1447 Hijriah, sehingga nuansa spiritual dan solidaritas sosial terasa kental menyelimuti jalannya diskusi.

Santunan diberikan secara langsung kepada anak-anak yatim sebagai wujud komitmen dalam membangun empati dan solidaritas di tengah masyarakat. Atmosfer kebersamaan itu juga menunjukan Albert Institute tidak semata dirancang sebagai institusi akademik, melainkan sebagai gerakan sosial yang menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai orientasi utama.

Sejak sore hari hingga menjelang berbuka, diskusi berlangsung dinamis, menyatukan pandangan dari akademisi, tokoh masyarakat, dan para pemuda pegiat pemberdayaan dalam satu cita-cita kolektif, membangun pusat pengembangan kapasitas generasi muda melalui Albert Institute.

Konsep Pendirian Albert Institute

Anak Yatim Jadi Saksi Albert Institute Resmi Digagas
Forum diskusi pendirian Albert Institute.

Dalam pembahasan ini, mematangkan konsep awal pendirian Albert Institute, dengan melahirkan sebuah visi besar yang dirumuskan dalam sepuluh program kerja yang menjadi fondasi operasional lembaga. Program-program itu dirancang sebagai instrumen akseleratif yang diharapkan mampu menciptakan kemandirian daerah melalui integrasi pendidikan, kewirausahaan, dan advokasi sosial sekaligus meningkatkan sirkulasi ekonomi di daerah.

Dr. Albert menjelaskan, secara faktual perputaran ekonomi daerah di sektor pendidikan cenderung mengalir ke luar daerah. Setiap tahun ratusan pelajar lulusan sekolah menengah lebih memilih untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi di kota besar. Dampaknya biaya pendidikan, biaya hidup, dan berbagai pengeluaran lainnya justru berputar di daerah lain.

“Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa intervensi strategis, daerah akan kehilangan banyak potensi termasuk regenerasi intelektual. Inilah salah satu yang melatarbelakangi lahirnya gagasan Albert Institute,” ujar Albert.

Katalisator Lahirnya Generasi Unggul

Menurutnya, Albert Institute diharapkan menjadi solusi struktural untuk membendung arus tersebut. Dengan memperkuat kualitas perguruan-perguruan tinggi yang ada di daerah, dan membuka ruang inovasi, sehingga masyarakat memiliki alternatif pendidikan yang kompetitif tanpa harus meninggalkan daerah.

Lebih jauh, kehadiran lembaga ini diproyeksikan menjadi katalisator lahirnya generasi unggul yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki orientasi kewirausahaan dan sensitivitas sosial.


Baca Juga : Bupati Muna dan Wabup Berbagi Peran Kendalikan Inflasi Jelang Ramadhan

“Pentingnya penguatan perguruan tinggi lokal melalui kolaborasi riset, peningkatan kualitas sumber daya dosen, serta pembukaan program studi yang relevan dengan kebutuhan daerah,” tutupnya.

Penunjukan Struktur Pengurus

Anak Yatim Jadi Saksi Albert Institute Resmi Digagas
Forum diskusi penunjukan struktur pengurus Albert Institute.

Sebagai langkah konkret, forum tersebut sekaligus menetapkan struktur kepengurusan Albert Institute guna memastikan keberlanjutan program. Penunjukan dilakukan secara musyawarah mufakat dan disepakati oleh seluruh peserta forum.

Zakaruddin dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Albert Institute. Ia dinilai memiliki kapasitas kepemimpinan dan jejaring sosial yang mumpuni untuk menggerakkan roda organisasi. Posisi Sekretaris diamanahkan kepada Yasin Ponda. Sementara itu, Syahadat ditunjuk sebagai Bendahara atau penanggung jawab bidang keuangan. Adapun untuk mendukung efektivitas kerja, dibentuk sejumlah bidang-bidang strategis.

Diketahui, dari 10 program kerja Albert Institute, termasuk pendirian koperasi di setiap desa sebagai pilar ekonomi kolektif. Skema ini diharapkan menjadi lokomotif distribusi modal dan penguatan usaha produktif masyarakat, dan pembentukan rumah edukasi Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya (Napza) guna meningkatkan literasi serta ketahanan generasi muda terhadap ancaman penyalahgunaan zat terlarang.

Pantauan Media ini, menjelang azan Magrib, seluruh tamu undangan bersama-sama melantunkan doa, kemudian berbuka puasa dengan hidangan sederhana yang telah disiapkan. Atmosfer kebersamaan terasa kental ketika anak-anak yatim nampak duduk berdampingan bersama pengurus Albert Institut, menciptakan ruang interaksi yang hangat tanpa sekat sosial.

Kegiatan dilanjutkan dengan salat Magrib berjemaah, dan setelahnya masuk pada agenda inti acara yakni pembagian sedekah kepada anak-anak yatim yang diberikan secara tertib guna memastikan seluruh penerima mendapatkan haknya secara proporsional.

Beberapa orang tua wali anak yatim yang hadir menyampaikan apresiasi atas kepedulian Albert Institute. Mereka mengaku bantuan tersebut sangat membantu meringankan beban ekonomi keluarga, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri.

Redaksi GoMuna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button