Pendidikan

Langkah Nyata Lestarikan Situs Peradaban Purba Gua Liangkabori

Pemerintah Kabupaten Muna kembali menunjukkan komitmen kuat dalam melestarikan warisan historis peradaban masa lampau. Di tengah padatnya agenda birokrasi pemerintahan, Bupati Muna, H. Bachrun, didampingi sang istri, Prof. Hj. Sitti Leomo, secara khusus menyempatkan diri hadir untuk membuka secara resmi agenda seminar budaya yang membedah jejak Situs Peradaban Purba Gua Liangkabori. Perhelatan akademik yang dipusatkan di Desa Liangkabori, Kecamatan Lohia ini, dirancang sebagai episentrum edukasi bagi generasi muda untuk menyelami kedalaman sejarah leluhur Bumi Sowite.


Baca Juga : Gagasan Dr. Albert: Maratonisasi Kunci Transformasi Digital UMKM

Ekskavasi Pengetahuan Melalui Kajian Situs Peradaban Purba Gua Liangkabori

Kehadiran pucuk pimpinan daerah dalam forum tersebut bukanlah tanpa alasan strategis. Menurut H. Bachrun, diskursus budaya ini memiliki signifikansi yang tinggi dalam mengangkat martabat sekaligus merekonstruksi karakter otentik masyarakat Muna. Keterlibatan para pelajar tingkat pertama dan menengah atas dalam forum ini dinilai sebagai langkah krusial untuk mentransmisikan kebanggaan komunal terhadap mahakarya prasejarah yang telah diakui luas.

“Forum dialektika historis ini memiliki nilai kemanfaatan yang luar biasa bagi masa depan daerah. Kami di jajaran eksekutif sangat menantikan agar konklusi serta hasil rumusan akademis dari seminar ini dapat diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Muna, sehingga kelak menjadi landasan pelestarian cagar budaya yang lebih terarah,” urai H. Bachrun, Sabtu, 4 April 2026.

Sinergi Akademik dan Warisan Dokumenter Berkelanjutan

Langkah Nyata Lestarikan Situs Peradaban Purba Gua Liangkabori
Koordinator Pelaksana Seminar, Nur Haizah Aopmonaim, saat foto bersama Bupati Muna, H. Bachrun, didampingi sang istri, Prof. Hj. Sitti Leomo.

Di sisi lain, Koordinator Pelaksana Seminar, Nur Haizah Aopmonaim, mengartikulasikan bahwa esensi utama dari kegiatan ini adalah mentransformasi paradigma pelajar dalam memandang peninggalan masa lampau. Edukasi ini didesain untuk menyadarkan publik, khususnya kaum muda, bahwa eksistensi gua tersebut bukan sekadar formasi geologi alam, melainkan titik episentrum lahirnya peradaban manusia purba di wilayah tersebut.

Akademisi dari Fakultas SPPG Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) ini menambahkan, agenda dialektika yang berlangsung selama tiga hari tersebut mendapat sokongan penuh dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), berkolaborasi erat dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) serta entitas Dana Indonesiana.

Antusiasme intelektual ini melibatkan 100 delegasi terpilih dari lima lembaga pendidikan terdiri dari tiga Sekolah Menengah Atas (SMA) dan dua Sekolah Menengah Pertama (SMP), di mana masing-masing sekolah mengutus 20 pelajar. Para peserta tidak hanya dijejali pemaparan teori, tetapi juga diajak berbaur dengan alam untuk mengeksplorasi langsung kemegahan seni cadas yang terlukis di dinding gua.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban akademis dan pelestarian literasi, manifestasi dari kegiatan ini tidak akan menguap begitu saja. Seluruh rangkaian riset dan eksplorasi akan dikristalisasi ke dalam berbagai format komprehensif, mencakup penerbitan buku sejarah, penyusunan katalog eksklusif, penulisan artikel ilmiah, hingga produksi video dokumenter sinematik berbasis drone yang siap mempertegas identitas budaya Muna di kancah nasional maupun global.

Redaksi GoMuna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button