Muna

Imbas Blokade Jalan Rusak Hambat Distribusi Hewan Kurban

Demokrasi sejatinya memberi ruang berekspresi, namun harus tunduk pada etika kemanusiaan. Terlebih Insiden yang ditimbulkan oleh aksi sekelompok demonstran yang mengatasnamakan rakyat ini, justru menyandra hak kepentingan urgensi masyarakat umum lainnya.

BACA JUGA : Target Ekspansi Frebi Rifai Bidik Sembilan Kursi DPRD Muna

Bentuk Kecaman Keras Terhadap Demo Blokade Jalan

 

Penyekatan jalur distribusi hewan kurban oleh sekelompok demonstran di wilayah hukum Kabupaten Muna Ini, bukan perkara kemacetan saja, melainkan tragedi krisis empati, yang secara spontan menuai sorotan kritis dari elemen masyarakat luas.

Lantaran tindakan penyampaian aspirasi yang disisipi aksi blokade jalan rusak di Desa Mantobua, Kecamatan Lohia dinilai sangat mencidrai nilai kemanusiaan jelang Perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 H. Momentum pengingat bagi seluruh umat islam di dunia.

Salah satu kritik tajam disuarakan secara terbuka oleh Arham Rasyid. Ia bukan orang sembarang, melainkan influencer terkemuka asal Kota Kendari dengan rekam jejak panjang sebagai penulis buku, pegiat literasi, praktisi digital marketing, hingga penulis naskah film, di mana karyanya film Molulo, sukses menembus bioskop nasional.

​Melalui akun Facebook pribadinya, Arham secara tegas menyoroti aksi demo yang dinilai krisis empati dan kehilangan esensi. Pasalnya, demo tersebut dilakukan sehari sebelum hari raya Idul Adha. Berdampak total terhambatnya laju distribusi hewan kurban yang sangat dinantikan oleh warga prasejahtera di pedesaan sekitar.

​Sebagai pegiat literasi, Arham tidak dapat menyembunyikan kekecewaan melihat aksi demonstrasi yang diwarnai penutupan total akses publik tersebut. Ia mengartikulasikan bahwa esensi menuntut keadilan menjadi kontradiktif ketika tindakan itu menzalimi hak asasi pengguna jalan lain, terlebih di rentang waktu sakral Idul Adha.

​”Tandain wajah-wajah preman kampung ini. Semoga viral dan mendapat hukum sosial,” tulis Arham dengan konotasi geram melalui akun pribadi facebooknya yang baru saja diunggah bersama bukti video, Jumat, 29 Mei 2029.

​Kritik tajam ini dibangun di atas argumentasi rasional. Arham menyayangkan absennya etika moral para demonstran saat itu. ​”Demo kok di hari raya, kayak orang gak beragama saja. Bicara soal keadilan tapi malah menzalimi orang dengan memblokade jalan,” tegasnya lugas.

​Kekecewaan ini berpangkal pada fakta di lapangan. Kendaraan operasional yang tertahan blokade massa merupakan milik rekannya, Laode Munafar. Mobil itu mengemban amanah mengangkut sapi kurban yang secara syariat harus disembelih sebelum batas waktu hari tasyrik berakhir.

​Negosiasi Alot Berujung Kebuntuan Rasionalitas

​Di desa tujuan distribusi, bermukim ratusan warga dhuafa yang telah menaruh harapan besar. Mereka menanti cemas kedatangan daging sapi kurban yang nyaris melewati batas tasyrik gara-gara ulah kelompok demonstran. Ironisnya, proses negosiasi dan permohonan atas nama kemanusiaan tidak digubris oleh massa aksi.

​”Kawan saya sudah memohon-mohon dan mengingatkan bahwa ini soal ibadah, tapi tetap gak ada ampun dan belas kasihan dari mereka,” ungkap Arham.

​Para demonstran bersikukuh mempertahankan ego gerakan yang dibangun. Mereka mendeklarasikan bahwa jalan raya hanya boleh dibuka apabila Bupati Muna hadir demi mendengarkan aspirasi perbaikan infrastruktur jalan yang rusak parah.

​”Undang-undangnya sudah jelas, kata seorang pendemo asbun, sambil ngudud,” beber Arham menirukan gaya arogan oknum demonstran dalam video singkat berdurasi 4 menit, 12 detik yang diunggahnya tersebut.

​Bertaruh Nyawa Melintasi Jalur Ekstrem

​Menghadapi kebuntuan komunikasi, Laode Munafar terpaksa mengambil keputusan berisiko. Demi menunaikan amanah, ia mengambil inisiatif memutar arah kendaraan dan menelusuri rute alternatif, meskipun medan sangat berbahaya bagi kendaraan terlebih bermuatan berat.

Menurut Arham, ​Informasi yang diterimanya melukiskan dramatisnya perjalanan pendistribusian kurban tersebut. Kendaraan pengangkut sapi dipaksa bermanuver melewati medan curam hingga nyaris berujung insiden fatal.

BACA JUGA : Pemilu 2029 Barometer Kekuatan PDIP Muna di Pilkada 2031

​”Semalam saya dikabari langsung dari TKP, qadarullah kampas kopling habis gegara mobil yang dipaksa menanjak dan nyaris terguling ke jurang, hancur bamper belakang. Tapi demi amanah, mobil tetap lanjut jalan,” jelas Arham.

Kendati demikian, ​perjuangan epik yang mempertaruhkan nyawa itu pada akhirnya membuahkan hasil. Meski kendaraan mengalami kerusakan cukup parah, amanah penyaluran kurban tetap berhasil ditunaikan.

Akibat insiden kelam ini meninggalkan catatan kritis, menegaskan bahwa kebebasan berekspresi tidak seharusnya memberangus empati dan hak hidup masyarakat luas.

​”Alhamdulillah, tengah malam sapi-sapi tiba di tujuan dan berhasil disembelih di tempat di mana warga menanti,” tutup Arham.

Anggaran Perbaikan Jalan Rusak Mantobua Sudah Dianggarkan

Sementara itu, seperti dilansir media telisi.id. Jauh sebelum ada gerakan aksi demonstrasi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muna pun tidak tinggal diam melihat kondisi itu. Di tengah efisiensi, Pemkab ternyata telah menganggarkan perbaikan jalan tersebut.

Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dab Penataan Ruang (PUPR) Muna, Adi Mulya mengatakan, penanganan poros Mantobua-Korihi telah dianggarakan sebesar Rp 380 juta. Perencanaannya telah selesai. Saat ini, pihaknya akan mengusulkan pada Unit Layanan Pengadan (ULP) untuk dilakukan proses lelang.

“Administrasi sudah siap, tinggal diusul untuk di lelang. Insya Allah, dalam waktu dekat sudah bisa action,” kata Adi, Kamis (28/5/2026).

Selain dana Rp 380 juta itu, pihaknya juga telah mengusulkan penanganan tuntas pada ruas jalan di Kecamatan Lohia melalui program Inpres Jalan Daerah (IJD) sebesar Rp 22 miliar. Rincian usulannya, poros Mantobua-Lohia Rp 6 miliar, Lohia-Lakarinta Rp 9 miliar dan Lohia-Napabale Rp 7 miliar.

Redaksi GoMuna

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button