Leomo Bachrun Bawa Misi Tenun Pewarna Alami Khas Muna Siap Mendunia Lagi

Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Muna tengah mengakselerasi persiapan untuk menggaungkan eksistensi wastra dan kriya lokal pada kancah nasional. Di bawah komando Prof. Hj. Leomo Bachrun, lembaga ini mengonfirmasi partisipasinya dalam eksposisi akbar memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Dewan Kerajinan Nasional, yang dijadwalkan berlangsung di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada Juli mendatang.
Baca Juga : Harga Telur Melonjak di Muna Pasar Murah Jadi Solusi, Bupati Ingatkan Warga Tidak Panic Buying
Inovasi Tenun Tradisional dan Eksotika Pewarna Alami
Langkah strategis ini diambil sebagai manifestasi komitmen daerah dalam melestarikan warisan budaya sekaligus ruang promosi bagi produk kerajinan daerah berbasis kearifan lokal yang memiliki nilai estetika.
Kesiapan tersebut disampaikan oleh Ketua Dekranasda Muna, Prof. Hj. Leomo Bachrun, setelah mengikuti rapat koordinasi persiapan kegiatan melalui konferensi virtual pada Kamis, 12 Maret 2026. Dalam forum tersebut, sejumlah daerah diminta mempersiapkan produk unggulan yang akan dipamerkan kepada pengunjung dari berbagai wilayah.
Prof. Leomo menjelaskan, bahwa Dekranasda Muna telah menyiapkan sejumlah karya kriya khas daerah yang akan ditampilkan nanti, terutama kain tenun tradisional. Keunikan yang diusung kali ini adalah penggunaan pigmen organik atau pewarna alami yang dipadukan dengan teknik menenun spesifik bernama Sketgam: Obi.
Menurutnya, tekhnik menenun ini merupakan representasi intelektualitas perajin lokal dalam memanipulasi benang, di mana estetika corak hanya terproyeksi pada sisi luar kain, sementara bagian interior tetap mempertahankan tekstur polos yang halus.
“Karakter ini menjadi ciri artistik tersendiri yang membedakan tenun Muna dari produk serupa di daerah lain,” ujar Prof. Hj Leomo Bachrun usai mengikuti koordinasi virtual persiapan HUT Dekranas.
Konsistensi Produksi Berbasis Home Industri
Selain sektor wastra, lanjut Prof. Leomo, Dekranasda Muna juga menyiapkan berbagai produk kerajinan dari serat alam, yakni nentu. Produk turunan nentu ini telah bertransformasi mengikuti selera pasar modern tanpa menanggalkan identitas tradisionalnya, mencakup peranti saji seperti bosara, nampan, hingga elemen dekoratif meja lainnya.
Baca Juga : Kementerian Lingkungan Hidup Siap Dampingi Pemkab Muna Berbenah Sampah
“Alhamdulillah, daerah kita memiliki portofolio produk unggulan berupa kain tenun yang telah terkurasi secara internasional serta kerajinan nentu yang distingtif. kedua produk ini merupakan identitas kriya daerah yang secara konsisten terus diproduksi oleh para pengrajin dengan skala industri rumahan,” terangnya.
Prof. Leomo menambahkan, apabila Dekranasda Provinsi meminta kesiapan untuk mengeksplorasi produk-produk potensi daerah ini, secara komprehensif Dekranasda Muna sangat siap berpartisipasi. “Para pengrajin di daerah tetap konsisten memproduksi, sehingga dari sisi ketersediaan produk maupun kualitasnya, kami optimistis dapat menampilkan yang terbaik,” tuturnya.
Istri orang nomor satu di Bumi Sowite ini juga menggarisbawahi pentingnya momentum pameran sebagai katalisator ekspansi pasar. Menurutnya, popularitas brand Tenun Masalili yang telah menembus batas teritorial negara harus terus dipupuk melalui inovasi tanpa henti.
“Sejauh ini, tenun masalili dengan identitas pewarna alaminya selalu menjadi primadona yang sangat diminati dalam setiap eksibisi. Olehnya, saya berharap kepada para pengrajin kita agar tidak pernah stagnan dalam berkarya. Kreativitas dan inovasi adalah variabel kunci untuk menjawab dinamika permintaan konsumen yang semakin kompleks,” pungkasnya.
Redaksi GoMuna




