Muna

Fakta di Balik Gomberto Gunakan Dana Pribadi dan Alat Berat Buka Jalan Pure-Bubu

Akses utama yang membentang dari Desa Pure, Kecamatan Wakorumba Selatan, menuju Desa Bubu, Kecamatan Kambowa, jalan penghubung Kabupaten Muna dan Kabupaten Buton Utara (Butur), Sulawesi Tenggara, yang mengalami kelumpuhan total selama lebih dari tiga dekade ini dalam waktu dekat bisa dilewati kembali oleh warga setempat.

BACA JUGA :Aksi Gomberto Perbaiki Akses Jalan Pure-Bubu Tuai Apresiasi WargaNet Hingga Dukungan Politik

Akses Jalan yang Memadai Segara Terealisasi

Akses mobilitas yang memadai ini segera terealisasi dengan baik setelah beberapa waktu lalu, nampak Founder Mitra Pembangunan Sultra (MPS) Group, La Ode Gomberto menerjunkan langsung alat berat exavator miliknya ke lokasi untuk membuka kembali jalur yang telah lama membelenggu aktivitas perekonomian warga.

Antara Respon Positif dan Narasi Negatif Netizen

Kendati, inisiatif Gomberto yang menggunakan dana pribadi demi membantu memperbaiki jalan Pure-Bubu ini menuai apresiasi dan dukungan dari warganet di media sosial. Namun di tengah banyaknya respons positif tersebut masih ada saja isu miring yang terus digaungkan.

Segelintir pihak yang diduga merupakan buzzer, secara sistematis menghembuskan narasi negatif mengaitkan bahwa perbaikan akses jalan merupakan pencitraan untuk kepentingan politik ke depan, demi mempelancar operasional korporasi milik Gomberto, hingga tudingan anggaran yang dikucurkan menggunakan uang negara.

Warga Runtuhkan Spekulasi Liar Perbaikan Jalan Pure-Bubu

Fakta di Balik Gomberto Gunakan Dana Pribadi dan Alat Berat Buka Jalan Pure
Abdul Salam Hidayat saat bersama warga desa pure ikut membersamai dalam proses pekerjaan jalan pure-bubu

Menangggapi tudingan yang tidak berdasar ini, warga Desa Pure yang merasa senang dan terharu dengan adanya perbaikan jalan turut memberikan klarifikasi. Warga setempat, Abdul Salam Hidayat dengan tegas meruntuhkan spekulasi liar tersebut. Menurutnya, perbaikan jalan itu bersifat sosial, tanpa intervensi kepentingan baik afiliasi korporasi perusahaan maupun tendensi politik yang menguntungkan Gomberto secara pribadi.

Abdul Salam menjelaskan, bahwa lokasi perusahaan industri milik Gomberto berada di Desa Kogholifano, yang secara rute justru mengarah ke Kota Baubau. Jalur yang berbeda dengan lokasi jalan rusak di Desa Pure yang menghubungkan wilayah Buton Utara.

“Kami sangat heran! ada saja komentar buruk netizen. Bila dikorelasikan dengan agenda politik di tahun 2031, momentumnya itu masih sangat jauh,” urai Abdul Salam saat dikonfirmasi tim Redaksi GoMUNA, Minggu (9/8/2026).

Awalnya Tak Percaya Berujung Warga Sambut Haru Dibuka Kembali Jalan Pure-Bubu

Terlepas dari polemik tersebut, Abdul Salam justru membeberkan bahwa sebenarnya ia bersama warga lainnya sempat tidak menyangka ada sosok pengusaha yang bersedia mensedekahkan sebagian hartanya dalam jumlah besar demi membantu membuka kembali akses jalan yang menjadi jalur utama aktivitas ekonomi masyarakat.

Menurutnya, tindakan nyata yang dilakukan Gomberto ini sangat dirasakan oleh masyarakat setempat yang mayoritas bekerja sebagai petani.

Ia kemudian secara terbuka mengaku merasa sangat terharu dan tak bisa berkata-kata atas keiklhasan dan dedikasi Gomberto yang dirasakan langsung oleh masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani. Perasaan bercampur aduk itu tidak hanya dirasakan sendiri, namun begitu juga bagi guru, pekerja, maupun warga biasa di kampung halamannya.

“Kami hanya bisa terus memanjatkan rasa syukur, serta mendoakan semoga pak Gomberto bertambah rezekinya, segala aktivitas dan usaha dilancarkan, dan terpenting beliau selalu diberi kesehatan,” ungkap Abdul Salam dengan suaranya terdengar bergetar.

Warga Perkirakan Gomberto Keluarkan Biaya Lebih dari Rp700 Juta

Menurutnya, perbaikan jalan rusak yang membentang dari Desa Pure hingga Desa Bubu sepanjang 21 kilometer dan memperlebar ruas jalan menjadi 8 meter, diperkirakan Gomberto harus merogoh kantong pribadinya lebih dari Rp700 juta. Angka fantastis tersebut merupakan perkiraan dari warga, mencakup biaya pembelian material berupa besi baja untuk penyambungan kembali Jembatan Dempa yang terputus di kilometer 12 wilayah perbatasan Pure – Bubu.

“Termasuk kebutuhan bahan bakar solar, upah operator alat berat, akomodasi, dan logistik, serta biaya-biaya tak terduga lainnya selama proses pengerjaan jalan,” urainya.

Dampak Akses Jalan Lumpuh Total Dirasakan Warga Petani

Ia menambahkan, sejak akses jalan Pure-Bubu tidak dapat dilalui sangat memberatkan masyarakat, terutama petani yang hendak membawa hasil kebun mereka untuk dijual ke wilayah Buton Utara. Warga terpaksa harus memutar melewati jalur alternatif Desa Talingko dengan jarak tempuh sejauh 110 kilometer yang memakan waktu 1,5 jam.

“Kondisi ini membuat biaya melalui jalur alternatif menjadi lebih besar. Sementara kalau lewat di jalur utama sebelum rusak berat, hanya butuh waktu sekitar 20–30 menit,” bebernya.

Tragedi Kelam Masa Lalu Warga Sampai Takut Berkebun

Kondisi jalan rusak itu, membangkitkan kembali memori masa lalu yang menyimpan targedi kelam bagi masyarakat di kampungnya. Abdul Salam kemudian menceritakan mengenai kondisi jalan yang terakhir kali masih dapat dilalui ketika ia masih duduk di bangku SMP atau sekitar tiga dekade lalu.

Namun, seiring berjalan waktu dengan kian memburuknya kondisi jalan membuat mobilitas warga pun semakin sulit, hingga berdampak pada keselamatan pengguna jalan. Kecelakan pernah terjadi di jalur tersebut bahkan terdapat korban jiwa.

Kerusakan jalan dan terputusnya jembatan, menurutnya, membuat banyak masyarakat akhirnya takut pergi berkebun. Namun, tetap ada sebagian warga yang nekat ke lokasi kebun mereka meski harus menyebrangi jalur sungai karena jembatan tidak dapat digunakan.

“Kerusakan jalan ini sangat berdampak dengan keselamatan warga pengguna jalan. Termasuk kedua orang tua saya pernah juga kecelakaan saat melintas di jalur itu,” ungkapnya.

Warga Kembali Bersemangat Mengola Kebun

Mengakhiri keterangannya, Abdul Salam menyampaikan bahwa saat ini warga petani di kampungnya berbondong-bondong ingin mengolah lahan kebun masing-masing. Mereka kembali bersemangat setelah akses jalan Pure-Bubu mulai diperbaiki dan diperlebar.

BACA JUGA : Verifikasi BPSKL Perkuat Legalitas Konservasi Mangrove PT MPS

“Warga yang sebelumnya takut berkebun, sekarang mulai mau berkebun lagi. Ada yang menanam jagung, sayuran, dan nilam,” tandasnya.

Berawal dari Keluhan Mendorong Gomberto Membantu Secara Pribadi

Terpisah, Founder Mitra Pembangunan Sultra (MPS) Group, La Ode Gomberto mengatakan, tidak ingin merespons berbagai tudingan negatif yang beredar. Ia memilih fokus pada pekerjaan yang sedang dilakukan saat ini.

Bagi Gomberto, keputusannya terjun langsung memperbaiki akses jalan Pure-Bubu, dilatarbelakangi keinginannya dapat membantu masyarakat agar bisa kembali menikmati akses transportasi yang layak.

“Keputusan ini lahir dari keprihatinan saya pribadi setelah mendengar langsung keluhan dari sejumlah warga yang selama bertahun-tahun menghadapi sulitnya kondisi jalan rusak yang menjadi jalur utama aktivitas perekonomian mereka,” ujarnya.

Gomberto Dengarkan Keluhan saat Meninjau Lokasi Industri Miliknya

Gomberto menuturkan, bahwa sebelumnya setiap kali datang meninjau lokasi industri AMP miliknya yang berada di Desa Kogholifano, ia sudah sering mendengar keluhan dari kerabat maupun warga mengenai kondisi jalan Pure-Bubu yang telah lama terputus total yang belum tersentuh perbaikan.

Dari keluhan tersebut, Gomberto mengaku baru mengetahui betapa besarnya dampak dari kerusakan jalan terhadap kehidupan ekonomi warga yang menggantungkan hidup dari hasil bertani dan berkebun.

Melihat kesulitan warga yang harus menempuh jarak sangat jauh demi bisa menjual hasil panen mereka, yang menjadi keputusan paling mendesar bagi Gomberto, untuk bergerak cepat, dan turun langsung membantu dengan memanfaatkan alat berat miliknya untuk membuka kembali jalur tersebut.

“Sejak jalannya itu terputus, masyarakat harus memutar melalui jalur alternatif. Mereka yang mau membawa hasil kebun terpaksa menempuh jarak yang jauh hingga ratusan kilometer,” tutupnya.

Redaksi GoMUNA

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button