Muna

Bapanas Apresiasi Gerakan Muna Makan Jagung: Dinilai Jadi Model Pangan Berbasis Kearifan Lokal

Badan Pangan Nasional (Bapanas) memberikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Muna atas peluncuran Gerakan Muna Makan Jagung, yang dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus melestarikan identitas pangan lokal masyarakat.

BACA JUGA : Polda Sultra Tetapkan Tersangka Eks Orang Nomor Satu Konawe Utara: Penyidik Segera Limpahkan Berkas ke JPU

Petani Dinilai Menjadi Pilar Ketahanan Pangan Daerah

Apresiasi tersebut disampaikan oleh Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional melalui Pejabat Fungsional Ahli Madya Direktorat Penganekaragaman Konsumsi Pangan, Dr. Rahmatia Garwan, S.Pi., M.Si., pada kegiatan akbar Gerakan Muna Makan Jagung yang digelar di Kabupaten Muna, Minggu (2/8/2026).

Dalam sambutannya, Bapanas menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten Muna di bawah kepemimpinan Bupati Bachrun Labuta bersama Wakil Bupati La Ode Asrafil, atas inisiatif menghadirkan gerakan tersebut.

Menurutnya, Gerakan Muna Makan Jagung bukan sekadar kampanye konsumsi pangan lokal, melainkan implementasi nyata dari visi pembangunan daerah JATI (Jagung, Hortikultura, Ternak, dan Ikan) yang selaras dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal.

Bapanas juga memberikan penghormatan kepada seluruh petani di Kabupaten Muna yang dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan.

Kerja keras para petani dalam mengelola lahan hingga menghasilkan panen jagung yang melimpah disebut menjadi fondasi utama bagi ketahanan pangan masyarakat di wilayah kepulauan tersebut.

Kabupaten Muna, lanjutnya, memiliki karakteristik sebagai daerah kepulauan yang cukup rentan apabila terlalu bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah. Oleh sebab itu, penguatan konsumsi pangan lokal dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian pangan masyarakat.

Jagung Bukan Sekadar Makanan, Tetapi Identitas Budaya Muna

Dalam sambutannya, Bapanas menegaskan bahwa gerakan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan konsumsi jagung, tetapi juga mengembalikan kebanggaan masyarakat terhadap sejarah dan budaya pangan lokal.

Berbagai kuliner tradisional berbahan dasar jagung seperti kambose, katumbu, dan kambewe disebut sebagai warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun dan masih lestari hingga saat ini.

Keberadaan makanan tradisional tersebut menunjukkan bahwa jagung memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar komoditas pertanian, melainkan menjadi bagian dari identitas peradaban masyarakat Muna.

Tiga Nilai Strategis Gerakan Muna Makan Jagung

Bapanas menjelaskan bahwa Gerakan Muna Makan Jagung memiliki tiga tujuan utama, yaitu:

1. Melestarikan identitas pangan lokal dengan menjadikan jagung sebagai kebanggaan sekaligus komoditas unggulan masyarakat Muna.

2. Mendorong pola konsumsi pangan yang lebih sehat karena jagung merupakan sumber karbohidrat yang kaya vitamin, serat, dan baik bagi sistem pencernaan.

3. Meningkatkan kesejahteraan petani melalui perluasan pasar hasil panen, sehingga perputaran ekonomi daerah semakin kuat.

Selain itu, apresiasi juga disampaikan kepada Tim Penggerak PKK Kabupaten Muna beserta seluruh pemangku kepentingan yang aktif mengedukasi masyarakat agar kembali mengonsumsi pangan lokal berbahan dasar jagung.

Diharapkan Berjalan Berkelanjutan

Bapanas berharap Gerakan Muna Makan Jagung tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang melibatkan seluruh rantai produksi pangan, mulai dari penyediaan benih unggul hingga dukungan sarana pengolahan hasil pertanian, peternakan, dan perikanan.

Kolaborasi antara pemerintah, petani, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat dinilai menjadi faktor penting agar program tersebut mampu menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.

BACA JUGA : Tanggapi Kuasa Hukum Ruksamin Kuasa Hukum Jalil: Sudah Tersangka Perdata Akal-akalan saja

Promosi melalui berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook juga dianggap perlu diperkuat untuk memperluas jangkauan edukasi mengenai pentingnya konsumsi pangan lokal.

Bapanas Terus Dorong Pengembangan Pangan Lokal

Dalam kesempatan itu, Bapanas menyampaikan bahwa sejak tahun 2022 pihaknya secara konsisten mendukung pengembangan pangan lokal melalui Program Pengembangan Usaha Pengolahan Pangan Lokal (PUPPL) dengan memberikan berbagai bantuan peralatan kepada petani maupun pelaku usaha.

Selain itu, Bapanas juga telah menerbitkan buku edukasi “Kenyang Gak Harus Nasi” yang kini telah memasuki empat edisi. Pada edisi pertama, jagung menjadi salah satu komoditas utama yang diperkenalkan sebagai alternatif pangan pokok.

Upaya edukasi juga dilakukan melalui penyusunan kurikulum muatan lokal bagi peserta didik guna mengenalkan kekayaan pangan daerah sejak usia dini. Bapanas berharap Dinas Pendidikan dapat menindaklanjuti implementasi kurikulum tersebut di daerah.

Bangga Mengonsumsi Jagung Lokal

Menutup sambutannya, Bapanas mengajak seluruh masyarakat untuk kembali menjadikan jagung sebagai bagian dari menu sehari-hari, bukan karena kekurangan beras, tetapi sebagai bentuk kebanggaan terhadap kekayaan pangan lokal yang dimiliki Kabupaten Muna.

“Kenyang tidak harus nasi. Dengan pangan lokal seperti jagung, kita juga dapat hidup sehat sekaligus menjaga identitas budaya dan memperkuat kesejahteraan petani,” demikian pesan penutup yang disampaikan dalam acara Gerakan Muna Makan Jagung.

Redaksi GoMUNA

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button