Simbol Harmoniasi Antaretnis: Restu Adat Tolaki Warnai Silaturahmi Akbar KKMM Sultra

Harmonisasi antaretnis merupakan pilar fundamental dalam menjaga stabilitas sosiokultural khususnya di jazirah Sulawesi Tenggara. Ketika pucuk pimpinan lembaga adat memberikan restu dan sokongan moral terhadap manifesto kebudayaan suku lain, menandai sebuah lompatan besar dalam komunikasi kultural.
BACA JUGA : Sumbangan Dulang Wali Kota Kendari Perkuat Legitimasi Silaturahmi Akbar KKMM Sultra
Sudut pandang yang menyejukkan ini mewarnai menjelang pelaksaan Silaturahmi Akbar KKMM Sultra. Dukungan terhadap perhelatan kultural ini tidak hanya datang dari internal keluarga besar Muna, melainkan mengalir riuh dari representasi etnis besar lainnya di Bumi Anoa.
Ketua Dewan Pengurus Pusat Lembaga Adat Tolaki (DPP LAT), Dr. H. Lukman Abunawas, S.H., M.Si., secara resmi melayangkan ucapan selamat sekaligus memberikan sokongan moral penuh atas rencana pelaksanaan festival kebudayaan yang diinisiasi oleh KKMM tersebut.
Langkah ini dipandang banyak pihak sebagai simbol harmonisasi lintas etnis yang sangat kuat. Kehadiran tokoh puncak adat Tolaki dalam merespons agenda masyarakat Muna menjadi teladan riil betapa indahnya rajutan persaudaraan antarsuku di Sulawesi Tenggara. Rangkaian seremonial kolosal ini dijadwalkan bakal menghentak kawasan pelataran Eks MTQ Kota Kendari pada 19 Juli 2026 mendatang.
Nilai Luhur Kawunaha dan Relevansi Menuju Indonesia Emas 2045

Mengusung tema yang sarat akan makna filosofis “Merajut Persaudaraan, Melestarikan Adat dalam Semangat Kawunaha yang Luhur Menuju Indonesia Emas 2045.” menjadi titik balik bahwa sejauh apa pun diaspora Muna melangkah, identitas kultural dan komitmen membangun daerah tidak boleh luntur.
Lukman Abunawas memandang bahwa tema yang diangkat memiliki korelasi yang sangat kuat dengan visi besar kebangsaan. Penguatan nilai sosiokultural di tingkat regional dinilai sebagai fondasi utama sebelum melangkah ke panggung pembangunan nasional.
”Semoga kegiatan ini semakin mempererat persaudaraan, memperkokoh persatuan, serta menghidupkan nilai-nilai luhur budaya Muna sebagai fondasi kebersamaan dalam berkontribusi membangun daerah, khususnya di Sulawesi Tenggara,” ungkapnya, Selasa (7/7/2026).
Menjaga Marwah Peradaban dari Akar Kebudayaan
Mantan Wakil Gubernur Sultra ini juga menyelipkan sebuah catatan reflektif yang sangat berbobot mengenai masa depan daerah. Menurutnya, sebuah kemajuan peradaban modern tidak akan memiliki esensi jika mengorbankan karakteristik dan kearifan lokal yang menjadi jangkar sosial kemasyarakatan.
BACA JUGA : Berdarah Muna: Fildan Rahayu Siap Pukau Warga di Silaturahmi Akbar KKMM Sultra
”Peradaban yang besar senantiasa bertumbuh dari akar budaya yang terjaga dan persaudaraan yang terawat,” beber Ketua DPP LAT tersebut.
Pernyataan ini sekaligus mematahkan sekat-sekat primordialisme yang kerap menjadi kerikil dalam dinamika sosial. Dukungan dari adat Tolaki ini membuktikan bahwa pelestarian kebudayaan Muna di daratan Kendari dipandang sebagai kekayaan kolektif milik seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara, bukan sekadar urusan satu suku semata.
Sinergi Strategis Demi Stabilitas Kawasan
Sementara itu, Ketua Panitia KKMM Sultra, Dr. LM Bariun, S.H., M.H, menyambut hangat atas sokongan moril dari pimpinan tertinggi lembaga adat Tolaki tersebut. Sinergi sosiokultural lintas etnis ini diyakini akan mempertebal rasa aman, meningkatkan iklim toleransi, serta memastikan jalannya Festival Budaya Muna berlangsung kondusif dengan estimasi kehadiran puluhan ribu massa.
“Dengan adanya restu kultural dari suku setempat, Silaturahmi Akbar KKMM Sultra diproyeksikan tidak hanya sukses secara seremonial, tetapi juga melahirkan output strategis berupa konsolidasi sosial demi mengawal arah pembangunan Sulawesi Tenggara yang aman, damai, dan bermartabat,” tutupnya.
Redaksi GoMUNA




