Fadli Zon Akui Jejak Peradaban Purba Bukti Muna Pusat Sejarah Dunia

Kawasan timur Indonesia kini tidak lagi dipandang sebagai wilayah pinggiran dalam peta perkembangan peradaban manusia. Muna pusat sejarah dunia, menjadi pesan utama yang disampaikan Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Fadli Zon, saat membuka Festival Liangkabori IV Tahun 2026 di Desa Liangkobori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sabtu (11/7/2026).
BACA JUGA : Langkah Nyata Lestarikan Situs Peradaban Purba Gua Liangkabori
Mantan aktivis 98 ini menyatakan bahwa posisi Muna dalam lintasan sejarah manusia telah berubah secara fundamental setelah temuan lukisan cadas purba di Liang Metanduno mendapat pengakuan ilmiah internasional.
Mengubah Paradigma Arkeologi Global
Menurutnya, penemuan tersebut tidak hanya memperkaya khazanah arkeologi Indonesia, tetapi juga mengubah cara dunia memandang kawasan Wallacea sebagai salah satu ruang penting dalam perjalanan panjang peradaban manusia.
“Karena itu, saya ingin menegaskan bahwa Muna adalah salah satu pusat sejarah dunia. Muna berada dalam koridor Wallacea, ruang yang sejak puluhan ribu tahun lalu menjadi laboratorium mobilitas, adaptasi, navigasi, dan inovasi manusia,” ujar Fadli Zon mengawali sambutannya.
Pernyataan itu menjadi salah satu penegasan terkuat dalam pidato Menbud tersebut. Selama ini, kawasan timur Indonesia kerap dipersepsikan sebagai wilayah yang berada jauh dari pusat perkembangan peradaban dunia. Namun, berbagai temuan ilmiah terbaru justru menunjukkan kenyataan yang berbeda.
Fadli zon mengatakan, Muna kini memiliki posisi strategis dalam kajian sejarah global karena menyimpan bukti aktivitas simbolik manusia yang usianya melampaui banyak situs prasejarah terkenal di berbagai belahan dunia.
Pengakuan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Hal ini merupakan hasil penelitian panjang yang dilakukan para ilmuwan Indonesia bersama mitra internasional sejak 2019 melalui program dokumentasi dan penanggalan seni cadas di Sulawesi Tenggara.
Penelitian itu berhasil mengidentifikasi puluhan situs prasejarah di kawasan tersebut, termasuk sejumlah lokasi yang sebelumnya belum pernah terdokumentasi. Salah satu temuan paling penting berasal dari Liang Metanduno yang berada di Kabupaten Muna.
Ia menjelaskan bahwa penelitian terhadap lapisan kalsit yang menutupi pigmen lukisan cadas menggunakan metode Laser Ablation Uranium-Series (LA-U-Series) menghasilkan usia minimum sekitar 67.800 tahun. Karena lapisan kalsit terbentuk setelah lukisan dibuat, angka tersebut menjadi batas usia paling konservatif yang dapat dipastikan secara ilmiah.
“Artinya, lukisan itu tidak mungkin lebih muda dari 67.800 tahun dan sangat mungkin memiliki usia yang lebih tua,” urai Fadli Zon yang juga sejarawan ini.
Lanjut Politisi Gerindra ini, bahwa hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Nature pada 22 Januari 2026. Tidak lama kemudian, pada 26 Mei 2026, temuan itu juga memperoleh pengakuan dari Guinness World Records sebagai lukisan tertua di dunia dalam kategori seni non-figuratif.
Menelusuri Jejak Peradaban Intelektual di Koridor Wallacea
Bagi Fadli Zon, pengakuan internasional tersebut bukan sekadar catatan akademik. Lebih dari itu, temuan tersebut menjadi momentum untuk menempatkan Indonesia, khususnya Muna, dalam percakapan besar mengenai asal-usul kreativitas manusia.
BACA JUGA : Leomo Bachrun Bawa Misi Tenun Pewarna Alami Khas Muna Siap Mendunia Lagi
“Pertanyaan yang harus kita jawab bukan hanya berapa usia lukisan tersebut. Pertanyaan yang lebih besar adalah seperti apa manusia yang meninggalkan jejak tersebut, bagaimana mereka mencapai pulau-pulau di Wallacea, dan bagaimana tanggung jawab kita setelah dunia mengetahui jejak itu berada di Muna,” katanya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa penemuan arkeologis tidak berhenti pada angka usia semata. Di balik cap tangan dan pigmen yang kini mulai memudar, tersimpan berbagai pertanyaan ilmiah mengenai kemampuan manusia purba dalam beradaptasi, bermigrasi, hingga membangun kebudayaan simbolik jauh sebelum lahirnya peradaban-peradaban besar yang selama ini mendominasi buku sejarah.
Muna Pusat Sejarah Dunia
Penegasan Fadli Zon mengenai posisi Muna juga didasarkan pada letak geografis kawasan Wallacea yang sejak lama menjadi perhatian para arkeolog dunia.
Dalam pidatonya, ia menjelaskan bahwa Wallacea bukan sekadar wilayah kepulauan yang memisahkan Asia dan Australia. Kawasan tersebut merupakan jalur penting yang dilalui manusia purba ketika melakukan migrasi menuju Sahul, daratan purba yang kini meliputi Papua dan Australia.
Keberadaan lukisan cadas di Liang Metanduno, menurutnya, menjadi salah satu bukti bahwa manusia yang melintasi kawasan ini bukan hanya mampu bertahan hidup, tetapi juga telah memiliki kemampuan berpikir simbolik yang tinggi.
Kemampuan itu tercermin dari keberanian mereka meninggalkan cap tangan dan berbagai motif pada dinding gua sebagai bentuk ekspresi, identitas, maupun komunikasi lintas generasi.
Bagi dunia ilmu pengetahuan, temuan tersebut memperluas pemahaman mengenai perkembangan budaya manusia pada masa Pleistosen. Selama beberapa dekade terakhir, pembahasan mengenai seni cadas tertua lebih banyak mengarah pada situs-situs di Eropa.
Namun, hasil penelitian terbaru di Muna menghadirkan perspektif baru bahwa perkembangan kreativitas simbolik manusia juga tumbuh sangat awal di kawasan Nusantara.
Fadli Zon menilai perubahan perspektif itu memiliki arti strategis bagi Indonesia. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi ajakan untuk melihat sejarah Indonesia dari sudut pandang yang lebih luas. Bukan hanya sebagai negara modern yang lahir pada abad ke-20, tetapi sebagai wilayah yang sejak puluhan ribu tahun lalu telah menjadi bagian penting dari perjalanan panjang umat manusia.
Dari perspektif ini, Muna bukan daerah yang jauh dari pusat atau periferi. Justru Muna adalah bagian dari nexus, crossroads, dan meeting point peradaban dunia,” tandasnya.
Redaksi GoMUNA




