Suasana Pagi Eks MTQ Kendari Jadi Saksi Berkumpulnya Lautan Manusia di Silaturahmi Akbar KKMM Sultra

Di tengah guyuran rintik hujan di suasana pagi hari Kota Kendari hari ini seakan menjadi saksi bisu berkumpulnya lautan manusia dari berbagai lapisan masyarakat. Nampak sejak pukul 07.30 WITA pada Minggu, 19 Juli 2026. Antusiasme masyarakat telah membanjiri pelataran kawasan Tugu Religi (Eks MTQ).
BACA JUGA : Sumbangan Dulang Wali Kota Kendari Perkuat Legitimasi Silaturahmi Akbar KKMM Sultra
Mereka datang berbondong-bondong dari berbagai penjuru daerah untuk menghadiri sebuah momentum historis, yakni Silaturahmi Akbar Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara.
Kehadiran warga yang membludak ini secara gamblang menegaskan betapa kuatnya ikatan persaudaraan yang terus dipelihara oleh masyarakat Muna, baik yang berada di perantauan maupun di tanah kelahiran mereka.
Festival Budaya Muna Guncang Kota Kendari

Kemacetan padat yang mewarnai di beberapa titik menuju lokasi kegiatan seolah menjadi penanda valid betapa magnet acara ini sukses menarik antusias publik.
Dengan wajah penuh keceriaan, warga dari berbagai rentang usia berkumpul bersama untuk merayakan momen kebersamaan yang terbilang sangat jarang terjadi dalam skala masif seperti tersebut. Warga tampak sangat antusias untuk mengikuti seluruh rangkaian agenda kegiatan yang telah disiapkan dengan matang.
Mereka datang berbondong-bondong secara berkelompok, baik bersama keluarga besar, kerabat dekat, hingga teman-teman satu komunitas. Selain itu, arus kedatangan tamu undangan terpantau terus mengalir deras tanpa menunjukkan tanda-tanda mereda.
Panitia penyelenggara pun terlihat bahu-membahu mengarahkan pergerakan massa agar rangkaian acara tetap berjalan dengan tertib, aman, dan terkendali.
Sajian Ribuan Duluang Siap Memanjakan Mata

Selain kehadiran lautan manusia yang luar biasa banyak, terdapat pemandangan menakjubkan yang memukau setiap pasang mata di lokasi. Pihak panitia penyelenggara secara cermat telah menyiapkan sekitar 1.200 duluang, yakni sajian makanan tradisional yang ditempatkan di dalam nampan, yang tersusun sangat rapi di bawah naungan tenda-tenda megah.
Ribuan duluang tersebut tentu saja bukan hanya sekadar konsumsi untuk mengenyangkan perut para hadirin, melainkan sebuah simbol kehormatan yang bernilai tinggi dalam menyambut puluhan ribu tamu undangan yang ditaksir hadir memeriahkan perhelatan akbar ini.
BACA JUGA : Simbol Harmoniasi Antaretnis: Restu Adat Tolaki Warnai Silaturahmi Akbar KKMM Sultra
Kehadiran ribuan duluang ini tentu saja bukan sekadar urusan konsumsi semata. Keputusan ini secara langsung menunjukkan komitmen kuat panitia untuk memberikan pelayanan yang maksimal dan memuliakan setiap tamu yang menginjakkan kaki di tempat acara.
Mereka mengemas alur acara ini secara sangat profesional namun tetap menolak untuk menanggalkan esensi kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Proses persiapan dan penyajian dulang yang dilakukan secara bergotong-royong oleh panitia dan masyarakat relawan menjadi bukti otentik bahwa semangat kolaborasi masih menjadi urat nadi yang berdenyut kencang dalam kehidupan bermasyarakat masa kini.
Makna Filosofi Luhur Tradisi Duduk Bersila

Sementara itu, hal yang paling menarik dan menyentuh dari keseluruhan pelaksanaan acara ini terletak pada tata cara para tamu undangan saat menikmati rangkaian acara.
Dengan penuh kerendahan hati duduk secara “paseba” atau bersila di atas hamparan ambal yang telah disediakan. Pemilihan gaya duduk tradisional ini sama sekali bukan tanpa landasan alasan yang rasional.
Formasi duduk bersila mengandung nilai filosofis yang amat luhur, yakni menegaskan prinsip bahwa setiap individu memiliki kedudukan yang setara dan sejajar. Sama sekali tidak ada strata sosial yang membedakan, serta tidak ada yang merasa memiliki derajat lebih tinggi antara satu tokoh dengan masyarakat sipil biasa.
Praktis, tidak ada satu orang pun yang merasa memiliki derajat lebih tinggi dari yang lainnya di lokasi ini. Semangat kesetaraan sosial inilah yang lantas menjadi esensi paling berharga dari perhelatan akbar KKMM.
“Kami memang sengaja menerapkan konsep duduk paseba ini untuk membangkitkan kembali ingatan kolektif tentang nilai luhur warisan leluhur kita. Melalui cara ini, kita semua duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Tidak ada sekat pembatas apa pun, semuanya menyatu dalam balutan persaudaraan,” tutur salah seorang panitia, Andi Sapri di tengah kesibukannya memantau kelancaran acara.
Sebagai penutup, pelaksanaan agenda besar yang mewadahi kerukunan masyarakat Muna ini berlangsung dengan sangat lancar, lugas, dan penuh rasa khidmat. Kegiatan yang memusatkan perhatian publik di jantung ibu kota provinsi Sulawesi Tenggara ini telah berhasil menanamkan pesan moral yang begitu berharga.
Mereka membuktikan bahwa merawat harmoni, menjaga persatuan, dan melestarikan identitas kebudayaan daerah merupakan tugas bersama yang harus terus diperjuangkan. Kesuksesan perhelatan ini diharapkan mampu menjadi teladan positif yang terus memperkuat fondasi sosial antar masyarakat di masa mendatang.
Hingga berita ini diterbitkan para peserta masih terus berdatangan dan mengisi celah-celah kosong di sekitar lokasi kegiatan. Kepadatan massa yang membanjiri kawasan ikonik Kota Kendari ini menjadi bukti nyata bahwa ikatan emosional dan kekeluargaan warga Muna sangatlah solid.
Redaksi GoMUNA



