Tokoh Muda Pegiat Tradisi Ajak Warga Muna Sukseskan Silaturahmi Akbar KKMM Sultra

Perhelatan budaya luhur masyarakat Muna di tanah rantau terus mendapat dukungan luas dari berbagai elemen, mulai dari pegiat adat hingga jajaran birokrasi. Gerakan ini tidak hanya berfokus pada pelestarian tradisi, tetapi juga membawa misi penguatan ekonomi kerakyatan bagi warga.
BACA JUGA : Silaturahmi Akbar KKMM Sultra Murni Kedaulatan Budaya Tanpa Muatan Politis
Kambawuna dan Dikbud Muna Kompak Dukung Festival Budaya di Tanah Rantau
Seperti menjelang agenda Silaturahmi Akbar Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara, yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Juli 2026 di Pelataran Eks MTQ Kota Kendari, yang terus mendapat gelombang dukungan moral.
Berbagai elemen pelestari adat dan instansi pemerintah daerah turut menyatakan komitmen dukungan untuk menyukseskan perhelatan kultural berskala besar tersebut. Festival budaya ini dinilai sebagai momentum krusial untuk memperkenalkan kekayaan warisan leluhur sekaligus merekatkan kembali kohesi sosial masyarakat Muna di perantauan.
Diantaranya datang dari Komunitas Pemerhati Budaya Warisan Suku Muna (Kambawuna) dan Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Muna.
Dorongan Ekonomi Kreatif untuk Pedagang Daerah Asal Muna
Ketua Kambawuna, Adi Munardi Kuti, menyambut baik terbentuknya kepengurusan baru paguyuban masyarakat Muna di bawah kepemimpinan La Ode Darwin. Menurutnya, momentum ini harus dimanfaatkan sebagai jembatan emas untuk melahirkan program-program pelestarian budaya yang lebih terukur dan menyentuh langsung masyarakat.
”Di awal kesempatan ini, kami mengucapkan selamat kepada La Ode Darwin yang telah terpilih sebagai Ketua KKMM Sultra. Kambawuna menaruh harapan besar agar ke depan terjalin kolaborasi strategis bersama demi pemajuan kebudayaan Muna,” ungkap Adi Munardi, Senin 29 Juni 2026 malam.
Ia juga memberikan dukungan penuh terhadap salah satu agenda paling dinanti, yaitu upaya pemecahan rekor dunia atau rekor Muri melalui penyajian 1.000 Talang Haroa (nampan berisi sajian makanan tradisional khas muna). Perhelatan yang tidak hanya berfungsi sebagai ajang unjuk kekayaan seni, tetapi juga dirancang untuk memutar roda ekonomi kerakyatan.
Tak lupa, Kambawuna menyematkan sebuah pesan moral bagi penyelenggara kegiatan. Mereka menyarankan agar kebutuhan logistik untuk kegiatan tersebut dapat dibeli langsung dari daerah asal, guna menghidupkan urat nadi perekonomian masyarakat setempat.
”Ada satu pesan kami. Kalau memungkinkan, untuk kebutuhan seperti bale, ayam, telur, dan lain sebagainya, belilah juga dari pedagang di Muna atau Muna Barat, lalu bawa ke Kendari. Biar efek ekonomi dari kegiatan ini ikut dirasakan khususnya pedagang dan peternak kita,” jelasnya.
Menutup pernyataannya, Adi mengonsolidasikan seluruh keluarga besar Kambawuna dan mengajak seluruh elemen warga untuk merapatkan barisan. “Kami mengajak seluruh Mieno Wuna (masyarakat Muna) di mana pun berada untuk mendukung dan menghadiri acara ini pada 19 Juli 2026. Kabarakatino Witeno Wuna,” ajaknya.
Penyelamatan Identitas Etnik Melalui Eksibisi Tradisi Khas
Apresiasi senada juga datang dari struktur birokrasi pemerintahan daerah. Kepala Bidang Kebudayaan Dikbud Kabupaten Muna, Hadi Wahyudi, menyatakan bahwa kegiatan silaturahmi akbar KKMM yang dikemas dalam festival budaya ini merupakan pilar penting dalam mempertahankan identitas etnik di tengah derasnya arus modernisasi.
Hadi juga menyatakan dukungan penuh terutama karena menghadirkan berbagai atraksi seni fundamental yang menjadi kebanggaan daerah. Menurutnya, atraksi budaya yang disuguhkan di hadapan puluhan ribu pasang mata nantinya itu bukanlah sekadar tontonan hiburan, melainkan merupakan ruang edukasi kultural yang sangat bernilai bagi generasi muda agar tidak kehilangan identitas sejarahnya.
BACA JUGA : Persatuan Suku Muna Bakal Memukau di Ajang Silaturahmi Akbar KKMM
”Kami jelas mendukung penuh silaturahmi akbar ini. Penampilan ragam kegiatan budaya di antaranya Ewa Wuna (seni bela diri), Modero, Tari Linda, hingga Perkelahian Kuda adalah bagian integral dari upaya pelestarian budaya suku Muna yang sangat berharga,” tuturnya.
Ia menambahkan, upaya merebut rekor MURI melalui dulang Haroa terbanyak akan menjadi tonggak sejarah baru, sebuah capaian prestisius yang akan mengangkat harkat kebudayaan muna di pentas nasional.
Menepis Provokasi: Menjaga Kemurnian Tradisi dari Polarisasi Politik
Menjelang akhir diskusi santai, ketika disinggung mengenai spekulasi yang mengaitkan perhelatan kebudayaan dengan kepentingan politik praktis, kedua tokoh muda penjaga tradisi ini memberikan respons tegas. Mereka sepakat bahwa agenda akbar ini murni sebagai ruang perjumpaan kultural, bukan panggung manuver politik pihak mana pun.
Atas dasar itu, pegiat budaya Adi Munardi Kuti dan Kabid Kebudayaan Hadi Wahyudi menyerukan pesan persatuan. Publik diimbau agar tidak mudah terprovokasi oleh penggiringan opini atau narasi sumbang yang menyebutkan bahwa festival budaya ini ditunggangi kepentingan terselubung.
“Kegiatan festival budaya ini sejatinya dirancang murni untuk merekatkan kembali kohesi sosial masyarakat Muna di perantauan. Terkait isu yang beredar, kami meminta masyarakat agar tidak terprovokasi narasi politik. Ini murni pelestarian tradisi,” tandas Adi, yang diamini oleh Hadi.
Redaksi GoMUNA




