Budaya

Menteri Kebudayaan RI Dongkrak Upaya Perlindungan Gua Liang Metanduno

Di balik temuan spektakuler lukisan cadas tertua di dunia, tersimpan makna filosofis yang jauh lebih krusial bagi identitas Bumi Sowite. Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Fadli Zon, saat memberikan sambutannya di pembukaan Festival Liangkabori IV di Desa Liangkabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, mengajak masyarakat untuk melihat peninggalan Gua Liang Metanduno dalam prespektif yang lebih luas, Sabtu (11/7/2026).

BACA JUGA : Fadli Zon Sebut Riset Gua Metanduno Mengubah Cara Dunia Membaca Sejarah Manusia

Bagi sejarawan ini, temuan arkeologi tersebut bukan hanya memperkaya daftar situs prasejarah Indonesia, tetapi juga memperkuat identitas bangsa sebagai negara yang dibangun di atas fondasi sejarah peradaban yang panjang.

Muna Menuju Warisan Dunia Melalui Perlindungan Ketat

Menbud ini menilai Indonesia tidak dapat dipahami semata-mata sebagai negara modern yang lahir setelah kemerdekaan. Di balik terbentuknya negara, Nusantara telah lebih dahulu menjadi ruang perjumpaan berbagai kebudayaan selama puluhan ribu tahun.

Dalam konteks itu, Fadli Zon memperkenalkan kembali konsep “civilizational-state” atau negara berbasis peradaban. Menurutnya, identitas Indonesia dibentuk oleh kesinambungan sejarah yang panjang, kemampuan masyarakatnya mengelola keragaman, serta warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.

“Inilah yang saya maksud ketika menyebut Indonesia sebagai civilizational-state, sebuah peradaban-bangsa. Indonesia tidak cukup dipahami hanya sebagai nation-state modern yang lahir pada abad ke-20. Identitas civilizational-state dibangun oleh kontinuitas sejarah dan kemampuan mengelola keragaman sebagai kekuatan,” ujar Fadli Zon.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat keragaman budaya terbesar di dunia. Ribuan pulau, ratusan kelompok etnis, dan ratusan bahasa daerah menjadi bukti bahwa perjalanan sejarah Nusantara berlangsung jauh sebelum konsep negara modern dikenal.

Masih dalam pidatonya, Fadli Zon memaparkan bahwa rekam jejak tersebut dapat ditelusuri mulai dari keberadaan hominin sekitar 1,8 juta tahun lalu di Pulau Jawa, keberadaan Homo erectus di sejumlah situs arkeologi, evolusi Homo floresiensis di Flores, hingga penyebaran Homo sapiens di Sumatra dan kawasan Wallacea.

Menurutnya, rangkaian sejarah panjang itu memperlihatkan bahwa Nusantara sejak lama telah menjadi ruang penting dalam perjalanan evolusi manusia. Di antara seluruh kawasan tersebut, Muna menempati posisi yang sangat strategis.

“Muna berada dalam koridor Wallacea, ruang yang sejak puluhan ribu tahun lalu menjadi laboratorium mobilitas, adaptasi, navigasi, dan inovasi manusia,” katanya.

Bagi Fadli Zon, sudut pandang inilah yang perlu dipahami masyarakat ketika melihat arti penting penemuan Liang Metanduno. Temuan itu bukan sekadar kebanggaan daerah, melainkan bagian dari narasi besar sejarah umat manusia.

Gagasan Out of Nusantara

Fadli Zon juga memperkenalkan gagasan Out of Nusantara, sebuah perspektif yang menurutnya dapat memperkaya cara pandang terhadap sejarah migrasi manusia.

Ia menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun, pembahasan mengenai penyebaran manusia modern lebih banyak mengacu pada teori Out of Africa. Meski teori tersebut tetap menjadi salah satu pijakan penting dalam ilmu pengetahuan, perkembangan penelitian arkeologi di Indonesia menunjukkan bahwa Nusantara memiliki peran yang jauh lebih aktif daripada sekadar wilayah lintasan migrasi.

Lebih jauh, Fadli Zon menerangkan bahwa kawasan Nusantara merupakan ruang tempat manusia beradaptasi dengan lingkungan tropis, mengembangkan teknologi pelayaran awal, menciptakan budaya simbolik, sekaligus meneruskan pengetahuan kepada komunitas berikutnya.

“Out of Nusantara adalah perspektif baru untuk melihat Nusantara sebagai koridor aktif, ruang transformasi, dan penghasil inovasi, terutama navigasi maritim, adaptasi tropis, serta kebudayaan simbolik,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa sejumlah bukti ilmiah mendukung pandangan tersebut. Mulai dari keberadaan alat batu berusia lebih dari satu juta tahun di Sulawesi, jejak hunian manusia purba di Jawa, hingga lukisan cadas Liang Metanduno yang memperlihatkan tingkat kemampuan simbolik manusia pada masa Pleistosen.

Bagi Fadli Zon, keseluruhan temuan itu menunjukkan bahwa kawasan Nusantara bukan hanya menjadi tempat manusia melintas, tetapi juga ruang lahirnya berbagai inovasi budaya yang memberi kontribusi terhadap perkembangan peradaban.

Pengakuan Dunia Harus Diikuti Tanggung Jawab

Meski telah memperoleh pengakuan internasional, Fadli Zon mengingatkan bahwa tantangan terbesar justru dimulai setelah dunia mengetahui nilai penting Liang Metanduno.

Ia menegaskan bahwa status sebagai lokasi yang menyimpan lukisan cadas tertua di dunia tidak boleh hanya dimaknai sebagai prestise. Pengakuan tersebut harus diiringi komitmen untuk menjaga keberlangsungan situs agar tetap lestari bagi generasi mendatang.

Ia mengungkapkan bahwa kondisi Gua Metanduno saat ini menghadapi berbagai ancaman yang memerlukan perhatian serius.

Beberapa di antaranya adalah pengelupasan pigmen pada lukisan, retakan batuan karst, pertumbuhan lumut dan lichen, terbentuknya endapan kalsit, tindakan vandalisme, hingga potensi kerusakan akibat kunjungan wisata dan pembangunan yang tidak terkendali.

Menurutnya, tanpa sistem perlindungan yang kuat, warisan budaya yang telah bertahan puluhan ribu tahun itu dapat mengalami kerusakan permanen.

Karena itu, Fadli Zon mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menempatkan pelestarian sebagai prioritas utama sebelum berbicara mengenai pengembangan kawasan. “Pengakuan dunia harus diikuti perlindungan yang kuat,” tegasnya.

Ia kemudian menawarkan tiga prinsip utama yang dinilai menjadi fondasi dalam pengelolaan kawasan Liang Metanduno. Prinsip pertama adalah Protection-First, yaitu memastikan seluruh upaya perlindungan dilakukan sebelum promosi wisata diperluas. Langkah tersebut mencakup pengamanan kawasan, pengaturan kapasitas kunjungan, penyediaan jalur yang aman, larangan menyentuh maupun mencoret lukisan cadas, hingga penegakan hukum terhadap setiap bentuk perusakan.

Prinsip kedua adalah Science-Led, yakni seluruh kebijakan pengelolaan harus bertumpu pada hasil penelitian ilmiah. Pendekatan tersebut meliputi pemetaan kondisi situs, pemantauan lingkungan karst, analisis tingkat kerusakan, dokumentasi digital, hingga penggunaan teknologi konservasi terbaru.

BACA JUGA : Fadli Zon Akui Jejak Peradaban Purba Bukti Muna Pusat Sejarah Dunia

“Sementara prinsip ketiga adalah Community-Based, yang menempatkan masyarakat Muna sebagai aktor utama dalam pelestarian kawasan,” ungkapnya.

Fadli Zon menilai masyarakat lokal bukan hanya tinggal di sekitar situs, tetapi juga merupakan penjaga pengetahuan, mitra penelitian, sekaligus pihak yang harus memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan warisan budaya tersebut.

“Masyarakat Muna adalah penjaga situs, pemilik pengetahuan lokal, mitra penelitian, dan pelaku utama ekonomi budaya,” ujarnya.

Menurutnya, manfaat ekonomi yang lahir dari pengembangan kawasan harus kembali kepada masyarakat melalui pendidikan, konservasi, penguatan UMKM, serta regenerasi pelaku budaya sehingga pelestarian berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan.

Redaksi GoMUNA

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button