Makna Kawunaha di Balik Silaturahmi Akbar KKMM Sultra: Jati Diri Masyarakat Muna

Riuh tepuk tangan, lantunan doa adat, serta deretan dulang yang memenuhi tenda-tenda di kawasan Tugu Religi (Eks MTQ) Kendari, pada Minggu (19/7/2026). Bukan sekadar menjadi penanda suksesnya Silaturahmi Akbar Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara. Di balik kemeriahan itu, tersimpan pesan yang jauh lebih besar, yakni menghidupkan kembali “Kawunaha”, sebuah nilai luhur yang sejak lama menjadi fondasi kehidupan masyarakat Muna.
BACA JUGA : La Ode Darwin Tunjukan Semangat Kawunaha Di Tengah Lautan Manusia
Bertajuk “Merajut Persaudaraan, Melestarikan Adat dalam Semangat Kawunaha yang Luhur Menuju Indonesia Emas 2045” dipilih bukan tanpa alasan. Bagi penyelenggara, kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau perkembangan teknologi. Bangsa yang kuat juga membutuhkan masyarakat yang tetap berpegang pada nilai budaya, memiliki karakter, dan mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman.
Melalui momentum budaya tersebut, KKMM Sultra berupaya mengingatkan bahwa warisan leluhur bukan sekadar cerita masa lalu. Nilai-nilai yang hidup dalam budaya Muna masih memiliki tempat dan peran penting dalam menjawab tantangan kehidupan modern.
Kawunaha sebagai Warisan Nilai Luhur Menuju Indonesia Emas 2045
Dalam kehidupan masyarakat Muna, Kawunaha dipahami sebagai semangat hidup yang menempatkan persaudaraan, saling menghargai, kepedulian sosial, dan kebersamaan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Nilai tersebut tumbuh melalui berbagai tradisi yang diwariskan turun-temurun. Setiap kegiatan adat tidak hanya dipandang sebagai seremoni, melainkan ruang untuk mempererat hubungan antarkeluarga, memperkuat solidaritas, serta menanamkan rasa tanggung jawab terhadap sesama.
Semangat inilah yang ingin kembali dihidupkan melalui Silaturahmi Akbar KKMM Sultra. Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, masyarakat diingatkan agar tidak kehilangan akar budayanya. Kemajuan zaman tidak harus menghapus identitas, justru nilai budaya dapat menjadi penyeimbang agar perkembangan masyarakat tetap berjalan dalam koridor etika, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sesama.
Ketua Panitia Pelaksana, Dr. LM Bariun, S.H., M.H., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang berkumpulnya masyarakat Muna rantau dari berbagai daerah sekaligus menjadi sarana memperkenalkan kembali nilai Kawunaha kepada generasi muda.
Menurutnya, pelestarian budaya harus dimulai dengan memperkuat rasa memiliki terhadap identitas sendiri. Ketika generasi muda mengenal akar budayanya, mereka akan memiliki pijakan moral yang kuat dalam menghadapi tantangan global.
“Kegiatan ini menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat Muna dari berbagai daerah sekaligus memperkuat silaturahmi. Kami juga ingin memperkenalkan kembali nilai Kawunaha kepada generasi muda agar tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” ujar Dr. Bariun.
Budaya Tidak Hanya Dipertontonkan, tetapi Dihidupkan

Silaturahmi Akbar itu memperlihatkan bahwa budaya bukan sekadar pertunjukan yang dinikmati sesaat. Setiap rangkaian kegiatan mengandung pesan yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat.
Prosesi “Kabasano Haroa” yang membuka acara menjadi simbol bahwa setiap aktivitas penting diawali dengan doa dan harapan akan keselamatan. Tradisi tersebut mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan selalu diawali dengan rasa syukur.
Setelah itu, masyarakat disuguhi berbagai atraksi budaya yang telah diwariskan selama bergenerasi.
Perkelahian Kuda, misalnya, tidak hanya menyuguhkan ketangkasan dan keberanian, tetapi juga memperlihatkan bagaimana tradisi ini mampu bertahan sebagai bagian dari identitas budaya.
Begitu pula dengan Tari Linda yang menampilkan keharmonisan gerak, kekompakan, serta keindahan seni yang lahir dari kehidupan masyarakat Muna.
Suasana keakraban semakin terasa ketika tarian Modero disuguhkan, tarian pergaulan yang sejak dahulu menjadi ruang mempererat hubungan sosial.
Melalui gerak sederhana yang saling berpegangan tangan dalam lingkaran yang saling berbalas pantun menggunakan bahasa Muna. Tersirat pesan bahwa kebersamaan merupakan kekuatan utama dalam kehidupan bermasyarakat dan bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.
Tidak kalah menarik, atraksi Ewa Wuna, memperlihatkan warisan bela diri tradisional yang mencerminkan keberanian, kedisiplinan, dan kemampuan menjaga kehormatan diri tanpa mengabaikan nilai-nilai sportivitas.
Selain menjadi hiburan, penyuguhan tradisi budaya tersebut menjadi media menjaga kelestarian bahasa daerah agar tetap digunakan dan dipahami oleh generasi berikutnya.
Filosofi Dulang, Simbol Menghormati Sesama

Salah satu daya tarik utama kegiatan adalah dalam ritual haroa yang menyajikan makanan khas tradisional menggunakan 1.228 dulang yang diproyeksikan untuk dicatatkan dalam Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Namun, makna dulang jauh melampaui angka tersebut. Dalam budaya Muna, dulang merupakan lambang penghormatan kepada tamu sekaligus simbol kebersamaan. Ketika makanan disajikan di atas dulang, yang ditonjolkan bukan hanya hidangannya, tetapi juga nilai keikhlasan, keramahan, dan rasa hormat kepada orang lain.
Tradisi itu mengajarkan bahwa menjamu tamu bukan sekadar memenuhi kebutuhan makan, melainkan mempererat hubungan antarmanusia.
Nilai inilah yang ingin kembali diperkenalkan KKMM Sultra kepada masyarakat luas. Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, budaya saling berbagi dan menghormati sesama dinilai tetap relevan untuk dipertahankan.
Membangun Karakter melalui Budaya

Indonesia telah menetapkan visi besar menuju Indonesia Emas 2045, bertepatan dengan satu abad kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam konteks tersebut, pembangunan sumber daya manusia menjadi salah satu prioritas utama. Namun, pembangunan karakter tidak dapat dilepaskan dari budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Nilai-nilai seperti gotong royong, toleransi, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian sosial sesungguhnya telah lama tumbuh dalam berbagai tradisi daerah, termasuk budaya Muna.
BACA JUGA : Suasana Pagi Eks MTQ Kendari Jadi Saksi Berkumpulnya Lautan Manusia di Silaturahmi Akbar KKMM Sultra
Karena itu, pelestarian budaya bukan hanya berkaitan dengan menjaga peninggalan leluhur, tetapi juga menjadi investasi sosial dalam membentuk generasi yang memiliki integritas, rasa cinta terhadap tanah air, serta kemampuan hidup berdampingan dalam keberagaman.
Melalui semangat Kawunaha, masyarakat diajak memahami bahwa kemajuan tidak selalu identik dengan meninggalkan tradisi. Justru, budaya dapat menjadi fondasi yang memperkuat pembangunan manusia agar mampu bersaing tanpa kehilangan jati dirinya.
Peran Generasi Muda Menentukan Masa Depan Budaya

Keberlangsungan nilai-nilai budaya pada akhirnya bergantung pada generasi penerus. Festival budaya seperti yang digelar KKMM Sultra menjadi salah satu cara mempertemukan generasi muda dengan warisan leluhurnya.
Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menyaksikan secara langsung bagaimana adat, seni, dan tradisi masih hidup di tengah masyarakat.
Pengalaman tersebut diharapkan menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya sendiri sekaligus memotivasi mereka untuk ikut menjaga dan mengembangkan warisan tersebut sesuai perkembangan zaman.
Pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan melalui upacara adat. Pemanfaatan media digital, karya kreatif, penelitian, hingga pendidikan berbasis budaya juga dapat menjadi sarana memperkenalkan nilai-nilai lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Menjadikan Budaya sebagai Kekuatan Bangsa
Koordinator Humas kegiatan, La Ode Muhram Naadu, menyampaikan bahwa keberhasilan penyelenggaraan Silaturahmi Akbar merupakan hasil kerja sama seluruh unsur kepanitiaan dan masyarakat Muna yang terlibat sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan.
Baginya, keberhasilan acara bukan hanya diukur dari banyaknya peserta atau terselenggaranya seluruh rangkaian kegiatan, melainkan dari tumbuhnya kembali kesadaran masyarakat untuk menjaga adat sebagai bagian dari identitas bersama.
Silaturahmi Akbar KKMM Sultra menunjukkan bahwa budaya masih memiliki daya rekat yang kuat dalam mempersatukan masyarakat. Ketika ribuan orang berkumpul dengan semangat yang sama untuk merawat warisan leluhur, sesungguhnya mereka sedang memperkuat fondasi sosial yang dibutuhkan bangsa di masa depan.
Menurutnya, di tengah derasnya arus globalisasi, Kawunaha hadir sebagai pengingat bahwa kemajuan akan memiliki makna lebih apabila berjalan beriringan dengan nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap budaya.
“Dari warisan lokal yang terus dijaga itulah lahir harapan agar Indonesia Emas 2045 tidak hanya menjadi simbol kemajuan ekonomi, tetapi juga menjadi cerminan bangsa yang tetap berakar kuat pada karakter dan identitas budayanya sendiri,” tutupnya.
Redaksi GoMUNA




