Budaya

Fadli Zon Sebut Riset Gua Metanduno Mengubah Cara Dunia Membaca Sejarah Manusia

Temuan arkeologis berupa lukisan cadas purba di kawasan Gua Liang Metanduno Muna terbukti sukses mengubah cara dunia membaca peta sejarah peradaban manusia. Penegasan Menteri Kebudayaan (Menbud) RI Fadli Zon, mengenai posisi baru Muna dalam peta sejarah dunia tidak hanya didasarkan pada usia lukisan cadas di Liang Metanduno.

BACA JUGA : Fadli Zon Akui Jejak Peradaban Purba Bukti Muna Pusat Sejarah Dunia

Menurutnya, nilai terpenting dari penemuan tersebut justru terletak pada kemampuannya mengubah paradigma ilmiah yang selama ini berkembang mengenai asal-usul kreativitas manusia.

Signifikansi Gua Liang Metanduno Muna Bagi Ilmu Pengetahuan

Selama puluhan tahun, situs-situs prasejarah di Eropa seperti Chauvet, Lascaux, Altamira, hingga Maltravieso menjadi rujukan utama ketika para ilmuwan membahas perkembangan seni gua pada masa Pleistosen. Temuan di Liang Metanduno kini menghadirkan bukti baru bahwa kawasan Nusantara juga memiliki rekam jejak budaya simbolik yang jauh lebih tua daripada sebagian besar situs yang selama ini dikenal luas.

Sejarawan ini menjelaskan bahwa usia minimum lukisan cadas di Liang Metanduno mencapai 67.800 tahun. Angka tersebut lebih tua sekitar 16.600 tahun dibandingkan seni cadas Maros–Pangkep yang sebelumnya dipublikasikan, sekaligus melampaui usia minimum cap tangan di Maltravieso, Spanyol, yang selama ini menjadi salah satu acuan penting dalam kajian seni gua dunia.

Sebagai gambaran, Menbud membandingkan usia lukisan di Muna dengan sejumlah situs prasejarah terkenal di dunia. Lukisan gua Chauvet di Prancis diperkirakan berusia antara 30.000 hingga 32.000 tahun, sedangkan Altamira di Spanyol berkisar 14.000 hingga 20.000 tahun dan Lascaux sekitar 17.000 tahun.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa jejak visual yang ditemukan di Liang Metanduno berasal dari periode yang jauh lebih tua.

“Artinya, sebelum piramida berdiri, sebelum kota-kota awal berkembang, bahkan puluhan ribu tahun sebelum seni gua Eropa yang terkenal itu dibuat, manusia di Muna telah meninggalkan ekspresi simbolik pada dinding karst,” ujar Fadli Zon dalam sambutannya di Festival Liangkabori ke IV, Sabtu, (11/7/2026).

Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa penemuan di Kabupaten Muna bukan sekadar memecahkan rekor usia sebuah lukisan, tetapi membuka ruang kajian baru mengenai perkembangan kebudayaan manusia pada masa awal.

Menurut Fadli Zon, cap tangan yang ditemukan di Liang Metanduno memperlihatkan kemampuan manusia purba dalam mengekspresikan gagasan melalui simbol. Di balik bentuk yang tampak sederhana itu tersimpan kemampuan berpikir abstrak, mengingat, berkomunikasi, hingga meninggalkan identitas bagi generasi berikutnya.

Ia menilai kemampuan tersebut merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan evolusi budaya manusia.

Tiga Makna Besar bagi Ilmu Pengetahuan

Dalam pidatonya, aktivis’98 ini menguraikan setidaknya tiga makna penting yang lahir dari penelitian di Liang Metanduno.

Makna pertama berkaitan dengan perkembangan kemampuan simbolik manusia. Menurutnya, cap tangan bukan sekadar bekas telapak yang ditempelkan pada dinding gua, melainkan bentuk komunikasi visual yang menunjukkan manusia telah memiliki daya cipta, imajinasi, serta kesadaran untuk meninggalkan pesan kepada generasi berikutnya.

Makna kedua adalah bergesernya pusat perhatian dunia terhadap perkembangan seni cadas. Jika sebelumnya pembahasan mengenai seni gua purba lebih banyak berpusat di Eropa, kini Sulawesi dan kawasan Wallacea menjadi bagian penting dalam diskusi ilmiah internasional mengenai asal-usul kreativitas manusia.

BACA JUGA : Langkah Nyata Lestarikan Situs Peradaban Purba Gua Liangkabori

“Kini dunia harus melihat Sulawesi, Wallacea, dan Nusantara sebagai salah satu pusat paling awal kreativitas simbolik manusia,” kata Fadli Zon.

Sementara makna ketiga berkaitan dengan sejarah migrasi manusia menuju Sahul. Ia menjelaskan bahwa letak Liang Metanduno berada pada jalur utara Wallacea yang diyakini menjadi lintasan manusia purba ketika bergerak menuju Papua dan Australia.

Dengan demikian, temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa manusia pada masa itu telah memiliki kemampuan merencanakan perjalanan laut, membaca kondisi alam, bekerja secara berkelompok, serta membawa kebudayaan simbolik yang telah berkembang.

“Bagi dunia arkeologi, informasi tersebut memperkaya pemahaman mengenai proses penyebaran Homo sapiens di kawasan Asia Tenggara hingga Australia,” urainya secara lugas.

Penelitian Belum Berakhir

Di balik besarnya temuan tersebut, Fadli Zon mengingatkan bahwa pekerjaan ilmiah masih jauh dari selesai. Program dokumentasi yang berlangsung sejak 2019 telah mencatat 44 situs seni cadas di Sulawesi Tenggara. Namun hingga kini baru 11 motif pada delapan situs yang berhasil ditentukan usianya secara ilmiah.

Artinya, sebagian besar peninggalan prasejarah di kawasan tersebut masih menunggu penelitian lanjutan.

Menurut mantan anggota DPR RI ini, kondisi itu membuka peluang besar bagi para peneliti untuk menemukan bukti-bukti baru yang mungkin memiliki usia sama tua, bahkan lebih tua dibandingkan Liang Metanduno.

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak menjadikan penemuan ini sebagai awal dari agenda penelitian yang lebih luas, bukan sebagai akhir dari proses ilmiah.

“Kemungkinan masih terdapat bukti lain yang sama tua, bahkan lebih tua, di Muna dan sepanjang jalur utara menuju Sahul. Penemuan ini harus menjadi pintu masuk bagi agenda ilmiah dan penelitian lebih lanjut,” terangnya.

Bagi Fadli Zon, penelitian arkeologi bukan hanya menghasilkan data ilmiah. Lebih dari itu, penelitian juga menjadi fondasi dalam merumuskan kebijakan pelestarian, pendidikan, hingga pengembangan kebudayaan yang berbasis bukti.

Redaksi GoMUNA

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button